Tuesday, November 07, 2006

Meminimalisir Konflik Dengan Komunikasi Efektif

(posted in like skill)


Tahukah Anda, bahwa bentuk dan macam komunikasi bisa memicu konflik? Tahukan Anda bahwa konflik sesungguhnya dipicu oleh kesalahan komunikasi? Bagaimanakah metode komunikasi bisa meminimalisir konflik?

A. Definisi Konflik

1. Konflik adalah pergesekan atau friksi yang terekspresikan di antara dua pihak atau lebih, di mana masing-masing mempersepsi adanya interferensi dari pihak lain, yang dianggap menghalangi jalan untuk mencapai sasaran.

2. Konflik hanya terjadi bila semua pihak yang terlibat, mencium adanya ketidaksepakatan.

B. Komunikasi Konflik

Ada lima macam gaya komunikasi Anda yang bisa memicu konflik.

1. Komunikasi Negatif

Anda pasti mengetahui bahwa ada orang atau pihak tertentu yang 'secara alamiah' berperilaku seperti Tom and Jerry. Perilaku seperti ini cenderung melekat secara konstan, karena sifatnya lebih menyerupai karakter diri dari pada penyakit yang harus disembuhkan. baca

Apa yang pasti dari perilaku seperti ini, adalah efeknya yang buruk terhadap pihak lain. Karakter ini dapat menyedot dan menghabisi antusiasme, energi dan rasa percaya diri orang-orang sekitar.

Apa yang dapat dilakukan dengan gejala ini, adalah mendorong orang yang bersangkutan untuk mengkonfrontir perilakunya sendiri. Dan ini, hanya dapat dilakukan jika orang-orang di sekitar bisa terlibat aktif dengan memberi masukan tentang perilaku dan karakter negatif itu.

Secara teknis, pendekatan terbaik yang dapat dilakukan adalah melatih apa yang disebut dengan "I message". Contoh pengungkapannya adalah sebagai berikut:

"Saat SAYA mengutarakan suatu pendapat atau usulan, SAYA merasakan bahwa sikap negatif Anda membuat SAYA frustrasi, dan SAYA menemukan bahwa bekerjasama dengan Anda menjadi lebih sulit dari semestinya."

Orang yang berkarakter negatif, memiliki kecenderungan untuk mempersepsi segala sesuatu yang sampai di telinganya, apa yang bisa terlihat oleh matanya, sebagai bentuk-bentuk serangan. Sikap negatifnya, adalah bagian dari sistem survivalnya. "I message" dalam hal ini, adalah untuk meredam persepsi itu.

Jika Anda merasa punya banyak "musuh", karakter Anda mungkin harus dibenahi.

2. Komunikasi Blaming

Masih ingat yang satu ini: "Litle-litle to me. Litle-litle to me. Salary no up-up." Maksudnya, "Dikit-dikit saya. Dikit-dikit saya. Gaji mah kagak naek-naek." Inilah yang terjadi, pada korban dari orang yang memiliki kecenderungan komunikasi blaming. Ia cenderung menyalahkan -- dan selalu menyalahkan orang-orang di sekitarnya.

"I message" yang ditimpali dengan menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih baik, adalah cara terbaik untuk mengakalinya. Carilah isu utama dari sikap menyalahkan itu, tangani satu per satu, jangan sekaligus.

Jika Anda sering melihat orang lain salah, mungkin Anda memang sering menyalahkan. Jika memang demikian, latihlah untuk selalu spesifik dan detil berkaitan dengan suatu kesalahan.

3. Komunikasi Superior

Anda mungkin boss. Waspadalah. Cara berkomunikasi ini dipenuhi dengan perintah, nasehat, dan pesan-pesan yang penuh moralitas. Semua itu memang diperlukan, akan tetapi jika setiap kalimat dan uraian yang keluar dari mulut melulu hanya tentang itu, maka kepekaan dari orang-orang sekitar akan menyusut jauh.

Bahkan, komunikasi seperti ini akan membuat orang-orang di sekitar menjadi bosan. Mereka akan mengalami frustrasi, penolakan dan bahkan dalam tingkat tertentu akan memunculkan inspirasi untuk mensabotase.

Sekali lagi, "I message" yang ditimpali dengan pendekatan asertif (emosi dan personal), bisa sangat membantu keadaan.

Anda mungkin boss. Waspadalah. Cobalah untuk lebih asertif dan personal. Sering-seringlah mengobrol dengan bawahan.

4. Komunikasi Tidak Jujur

Seringkali, ketidakjujuran dalam berkomunikasi akan menciptakan "kegagalan mendengar". Lebih dari itu, cara komunikasi ini akan menciptakan "kegagalan berempati". Ciri-cirinya, apa yang dikomunikasikan hanyalah berbagai hal di sekitar masalah, dan bukan masalah itu sendiri.

Ada juga ciri-ciri lain, akan tetapi bukan merupakan patokan utama, yaitu komunikatornya cenderung menggunakan kata-kata "Kita". Padahal, maksud "kita" di sana tidak lebih dan tidak kurang adalah dirinya sendiri.

Ada kecenderungan, komunikator yang demikian secara sengaja tidak menindaklanjuti perilaku yang tidak profesional, atau perilaku yang dapat merusak tim kerja, padahal bisa ditindaklanjuti. Semuanya itu, jelas akan mengarah pada tidak berfungsinya tim kerja. Untuk
membenahinya, diperlukan sebuah suasana yang terbuka, jujur, saling menghormati, berhenti saling menyalahkan, saling mengganggu, dan menyediakan akses bagi setiap orang.

Jika Anda sering bekerja dengan menyendiri, waspadai gaya komunikasi ini.

5. Komunikasi Selektif

Komunikatornya dalam hal ini, sering berasumsi tentang apa yang perlu diketahui oleh orang lain. Ia tidak berfokus pada apa yang secara obyektif memang perlu diketahui orang lain. Perilaku ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk tetap memegang kekuasaan,
mempertahankan status quo.

Untuk membenahinya, diperlukan keterbukaan dan akses kepada setiap informasi yang penting.

Contoh Komunikasi Yang Tidak Efektif

Contoh-contoh cerminan komunikasi yang dapat mensabotase tim:

"Yang penting kerjaan ana beres."
Sikap ini akan memperlemah kekuatan dan kerjasama tim.

"Bukan saya yang salah kok."
Ini juga tidak sehat, sebab sama dengan mengatakan "Yang salah orang lain."

"Kalo Dia yang salah ya biarin aja, toh bukan saya."
Sikap ini juga tidak membantu tim.

Sikap-sikap seperti di atas akan menghancurkan tim kerja secara keseluruhan.

C. Lima Ciri Komunikasi Positif

1. Kita Senasib Sepenanggungan

Unjuk kerja kelompok atau tim, dipersepsi lebih penting daripada unjuk kerja individual. Gaya menyalahkan, disadari atau tidak akan meroketkan unjuk kerja salah satu anggota tim, tapi tidak melejitkan unjuk kerja tim secara keseluruhan.

2. Tidak Ada Anggota yang Lebih Penting dari Anggota Lain

Saat seseorang merasa dirinya lebih penting dari orang lain, maka Ia akan terjebak pada komunikasi superior. Akibatnya, komunikasi yang efektif akan macet, dan digantikan oleh kompetisi yang tidak sehat. Saat setiap orang merasa sejajar, komunikasi akan lebih terbuka, dan suasana kerjasama dan kolaborasi akan meningkat.

3. Keterbukaan dan Kejujuran Adalah Penting

Jika Anda hanya berpikir tentang 'berbalas pantun' saat berkomunikasi, Anda telah melupakan proses mendengar yang efektif. Ini artinya, Anda telah terlibat dalah komunikasi yang kurang jujur. Ini mirip dengan sikap saat menyetujui sesuatu dengan setengah hati dan mencoba bersikap lemah lembut serta sopan.

Orang timur memang manis, tapi waspadalah untuk tetap selalu jujur. Apa yang penting dalam sopan-santun, adalah bagaimana mengungkapkannya, dan bukan menghindari atau berpura-pura setuju, atau berpura-pura tidak tahu. Ingatlah, tak ada ruang untuk ketidakjujuran.

Keterbukaan dan kejujuran dalam berkomunikasi, menuntut kemampuan untuk mendengar efektif dan berempati. Mendengar dengan menyimak, akan menempatkan diri Anda pada perspektif orang lain. Dengan begitu, Anda akan lebih empatik, dan empati akan mengurangi sikap menghakimi orang lain.

4. Akses Informasi untuk Setiap Orang

Informasi akan memfasilitasi kolaborasi dan kerjasama. Lebih dari itu, informasi akan memfasilitasi proses pengambilan keputusan yang jelas-jelas bukan keputusan perorangan.

Setiap keputusan yang diambil, akan selalu disertai dengan ketidakpastian dalam hal tertentu. Maka, keterbukaan informasi akan menurunkan risiko ketidakpastian itu.

5. Fokus pada Sasaran, Tujuan dan Misi Tim

Tanpa fokus, bias kecil akan menjadi halangan besar.

No comments: