Sunday, March 04, 2007

Usaha Tanpa Akhir - Langkah Penghancuran Al Aqsha Sejak 1967

(posted in ufuqiyat)

Paus Urbanus II, tahun 1095, usai Konsili Clermont menyerukan apa yang mereka sebut Perang Suci atau Crusade, dan memobilisasi kaum Kristiani di seluruh Eropa. Mereka berniat Yerusalem kembali dari kekuasaan Muslim. Paus Urbanus II membakar emosi massa dengan cara berdusta. Ia mengatakan umat Kristen di Palestina telah dibunuh, dibantai dan dibakar di dalam gereja-gereja oleh pasukan Turki Seljuk yang Muslim. Ia juga mengatakan, bahwa kaum Muslim telah dan sedang menguasai makam Yesus Kristus.

Tak hanya itu, Paus Urbanus II juga mengiming-imingi pengikutnya dengan surga. Bagi siapapun yang turut bertempur, surga telah di siapkan dan dosa-dosa telah disucikan. Hasilnya, ribuan kaum Kristiani berangkat menuju Palestina dengan kemarahan. Dan setibanya disana, terjadi pembantaian besar-besaran atas penduduk Yerusalem dan seluruh Palestina.

Selama dua hari penyerbuan, terjadi pembantaian yang tak bisa diterima akal sehat dan rasa kemanusiaan. Sebanyak 40.000 penduduk Palestina terbantai. Beberapa sejarawan menggambarkan, saat itu darah menggenangi tanah Yerusalem. Ada yang menyebutkan darah menggenang setinggi mata kaki, bahkan ada yang menggambarkan menggenang setinggi lutut manusia dewasa. Orang - orang Yahudi yang turut berperang dengan motivasi mendapatkan emas dan permata, banyak di antara mereka membelah perut korban untuk mencari barangkali ada barang berharga yang disembunyikan dengan cara ditelan.
baca


Setelah mereka menguasai tanah Palestina, pasukan Salib yang berasal dan terdiri dari banyak unsur mulai mendirikan kelompoknya masing - masing. Mereka tergabung dalam ordo - ordo tertentu. Para anggota ordo ini datang dari seluruh tanah Eropa, yang ditampung di biara - biara. Dan satu dari sekian ordo, yang mencuat namanya adalah ordo Knight of Templar.

Knight of Templar juga disebut sebagai Tentara Miskin Pengikut Yesus Kristus dan Kuil Sulaiman. Disebut miskin karena tergambar dari logo yang mereka gunakan, seperti dua tentara yang menunggang seekor keledai. Untuk menunjukkan bahwa mereka miskin, sampai - sampai satu keledai harus dinaiki dua orang tentara Knight of Templar. Bahkan tercatat, mereka dipaksa untuk makan tiga kali saja dalam seminggu. Sedangkan nama Kuil Sulaiman mereka pakai karena mereka menjadikan markas mereka ditempat yang dipercayai sebagai situs runtuhnya Kuil Sulaiman atau Solomon Temple. Mereka punya cita - cita mengembalikan kejayaan dan berdirinya Kuil Sulaiman.

Mereka mempercayai, Kuil Sulaiman dulu pernah berdiri di tempat kini dibangun Masjidil Aqsha. Kuil yang konon mereka sebut dibangun pada masa keemasan Nabi Sulaiman. Dan sejak itulah mereka berusaha melakukan pendudukan kembali atas tempat suci ketiga bagi umat Islam yang pernah menjadi kiblat pertama dalam shalat. Dan untuk itu, kaum yang satu ini memerlukan sumber daya yang besar, tidak saja dalam bentuk kekuatan bersenjata yang bergabung dalam ordo mereka, tapi juga kekuatan finansial yang menjamin berlangsungnya operasi penggalian.

Sepanjang bisa terlacak, pendiri ordo ini adalah dua kesatria Perancis, Hugh de Pavens dan Godfrey de St Omer. Spekulasi dari kalangan sejarawan mengatakan, bahwa ada darah - darah Yahudi yang mengalir deras dalam tubuh dan cita-cita para pendiri Ordo Knight of Templar ini karena mereka sesungguhnya adalah orang - orang Yahudi yang dipaksa masuk ke Kristen, Khatolik khususnya, setelah Raja Ferdinand dan Ratu Isabel meyerukan pembersihan kaum non-Kristiani saat mereka menikah dan berkuasa di Spanyol sebagai The Kingdom of Church. Para perwira tinggi Kristen itu, meski mereka memeluk Kristen, sesungguhnya proses convertion yang mereka lakukan hanyalah cara untuk menyelamatkan diri, dan masih berpegang teguh pada doktrin - doktrin Yahudi.

Dalam waktu yang singkat mereka mampu menjadi sangat kaya raya dengan jalan melakukan kontrol penuh terhadap penziarah Eropa yang datang ke Palestina. Salah satunya dengan cara merekrut anak - anak muda putra para bangsawan Eropa yang tentu saja akan melengkapi anak mereka dengan perbekalan dana yang seolah tak pernah kering jumlahnya. Mereka juga disebut sebagai perintis sistem perbankan pertama pada abad pertengahan.

Saat itu banyak orang - orang Eropa yang ingin pindah atau setidaknya berziarah ke Palestina. Dan tentu saja perjalanan yang jauh dari Eropa memerlukan bekal yang tidak sedikit. Ada yang membawa seluruh harta mereka dalam perjalanan, tapi karena tentara Salib di sepanjang perjalanan hidup dalam kondisi sangat mengenaskan dan sangat tergiur oleh hata kekayaan, tidak jarang terjadi perampokan bahkan saling bunuh antar kabilah Kristen di sepanjang perjalanan menuju Palestina. Lalu ditemukan cara, para penziarah tidak perlu membawa harta mereka dalam perjalanan. Mereka hanya perlu menitipkannya pada sebuah perwakilan Ordo Templar di Eropa, mencatat dan menghitung nilainya dan berangakat ke Palestina dengan bebekal catatan nilai harta yang nantinya akan ditukarkan dengan nilai uang yang sama di Palestina. Gerakan ini banyak di dominasi Ordo Templar yang membuat mereka sangat kaya raya karena mendapat keuntungan dari sistem bunga yang mereka kembangkan. Dan inilah cikal bakal perbankan yang kita kenal sekarang.

Pada masa yang lebih modern, bukan saja mereka berusaha meruntuhkan komplek Al Aqsha, tapi juga menguasai keseluruhan tanah kaum Muslimin, Palestina. Mereka merong - rong Khilafah Turki Utsmani untuk melepas Palestina. Sebagai gantinya, gerakan Zionis akan mengusahakan pembebasan yang melilit Turki saat itu. Tapi Sultan Abdul Hamid II mengatakan dengan tegas, bahwa umat Islam menolak memberikan tanah Palestina, meski hanya sejengkal pada Zionis Yahudi. Sejak saat itu, usaha meruntuhkan Masjidil Aqsha terus menerus mereka lakukan.

Kasus terakhir yang terjadi adalah awal Februari lalu. Selasa pagi ( 6/2), sejumlah buldoser Israel bergerak mengahancurkan sebagian pintu Maghariba. Buldoser - buldoser Israel itu terus menerus bekerja dan mengahancurkan sejumlah pagar bebatuan dan dua ruang yang dekat dengan Tembok Al-Buraq atau Tembok Ratapan.

Sejak pagi hari Selasa itu, pasukan Israel sudah memblokade ekstra ketat lokasi Al Maghariba. Bukan hanya lokasi itu yang diblokade, tapi seluruh pintu akses masuk ke masjid kiblat pertama itu juga dijaga ketat. Israel tentu sudah mencium kemarahan umat Islam yang pasti tersulut bila Al Maghariba dihancurkan. Karenanya, tak boleh ada anasir Muslim yang masuk dan mempertahankan Masjid Al Aqsha dari dalam.

Kamis, 15 Februari, Zionis diperkirakan telah menghancurkan 100 meter jalan Al Maghariba. Israel juga akan melenyapkan semua bebatuan peninggalan bersejarah di lokasi itu. Jika benar - benar terjadi, inilah penyerangan paling menyakitkan sejak Israel menduduki Palestina. Akses pintu Al Maghariba, merupakan salah satu penyangga bangunan penting bagi pagar yang mengelilingi Masjid Al Aqsha, hingga bila penyangga itu dihancurkan, pagar akan mudah runtuh. Dan keruntuhannya juga sangat berpengaruh bagi keruntuhan Masjid Al Aqsha.

Penghancuran Al Aqsha sudah terjadi sejak 1967. Usai Perang Enam Hari antara Israel dengan negara - negara Arab pada tahun 1967 dampai 1990, Zionis Israel lebih intensif lagi melakukan usaha perusakan sebanyak 40 kali. Bahkan setelah Perjanjian Oslo tahun 1993, perusakan makin menjadi - jadi. Dalam kurun waktu lima tahun, antara Masjid Al Aqsha sebanyak 72 kali dengan berbagai cara dan manipulasi.

Selain Israel sebagai negara, ada kelompok - kelompok Yahudi ekstrem yang selalu berusaha meruntuhkan dan menghancurkan Masjid Al Aqsha. Sekurang -kurangnya ada sekitar 125 kelompok Yahudi di Israel yang memiliki agenda utama untuk meruntuhkan masjid yang menjadi saksi Isra' Mi'raj ini.

Berbagai kelompok itu melakukan bermacam - macam cara untuk merusak Al Aqsha. Mulai dari usaha peledakan bom, pembakaran dan penembakan ke arah masjid. Sebagai catatan, pada 21 Agustus 1969, seorang anggota kelompok itu bernama Dennis Rouhan, Yahudi kelahiran Australia, berhasil menyusup masuk kedalam Masjid Al Aqsha dan melakukan pembakaran. Dennis Rouhan membakar lampu Shalahuddin al Ayyubi, membakar Mihrab Zakariya dan merusak tiang - tiang yang ada di dalamnya.

Pada tahun 1980, hari Jum'at tanggal 9 Mei, sebuah bom seberat 120 kilo ditemukan di kompleks Masjid Al Aqsha. Untungnya, bom ini ditemukan sebelum berhasil diledakkan. Rencananya, bom ini akan dipicu pada saat kaum Muslimin melakukan shalat Jum'at di Masjid Al Aqsha.

Tak lama setelah peristiwa itu, pada 27 April 1982, kelompok militan Yahudi kembali mencoba meledakkan Masjid Al Aqsha. Bahan peledak dimasukkan ke dalam antena radio di dalah satu gerbang Masjid Al Aqsha. Tapi sekali lagi, usaha peledakkan ini digagalkan, bom ditemukan sebelum sempat diledakkan.

Masjid Al Aqsha memang masih akan terus menghadapi ancaman - ancaman perusakan dari Zionis Yahudi. Luas areal kompleks Al Aqsha kurang lebih sekitar 14 hektar dan di dalam kempleks itu berdiri 45 situs bersejarah dan tempat suci bagi kaum Muslimin. Di dalam kompleks itu, setidaknya ada lima bangunan masjid. Bangunan utama, tentu saja Masjid Al Aqsha, lalu Qubbah As-Shakhrah, kemudian Masjid Umar dan Masjid Al-Marwani, sebuah bangunan yang dibangun di zaman Khalifah Malik bin Marwan. Ada 14 pintu gerbang untuk memasuki kompleks Al Aqsha, tapi sekarang hanya beberapa gerbang saja yang masih berfungsi, karena beberapa pintu berada di wilayah yang dikuasai Zionis Yahudi.

Kompleks Al Aqsha dikelilingi tembok sebagai pembatas dan pengaman. Dan tembok yang paling menjadi kontroversi adalah Tembok Al-Buraq, letaknya di arah Barat Daya. Bagian ini menjadi rebutan antara kaum Muslimin dan kelompok Yahudi. Bagi kaum Muslimin, nama tembok ini juga mencerminkan peristiwa Isra' Mi'raj, tempat Rasulullah menambatkan Buraq. Dan bagi orang - orang Yahudi, tembok ini juga disebut Tembok Ratapan, tembok suci untuk mereka.

Zionis Yahudi tidak akan berhenti, mereka selalu berusaha meruntuhkan Al Aqsha. Hingga saat ini, entah sudah berapa terowongan yang digali di bawah Masjid Al Aqsha. Baik secara sembunyi - sembunyi, maupun terang - terangan, penggalian terowongan terus dilakukan. Saking parahnya terowongan yang sudah digali, jika ada sedikit gempa saja, maka akan dikhawatirkan hal itu akan meruntuhkan Masjid Suci Al Aqsha.

Bahkan konon kabarnya dari terowongan - terowongan itulah, Israel telah membangun sebuah sinagoge bawah tanah yang berjarak kurang lebih 97 meter dari Qubbah As Shakhrah. Disebutkan sinagoge itu memiliki tujuh kamar dan tempat peribadatan. Rencananya, akan dibuat sinagoge khusus untuk perempuan di bawah Masjid Al Aqsha. Zionis Yahudi benar - benar berusaha keras untuk menghancurkan Masjid Al Aqsha.

Penghancuran Masjid Al Aqsha seharusnya menjadi 'cambuk' bagi kita. Tidak ada lagi kata 'diam' untuk penistaan itu.

Sumber : Majalah Tarbawi Edisi 151 th. 8