(posted in sastra islam)
"Ya Allah!!" pekik Rani bingung ketika dari langit turun hujan batu dari yang sebesar semangka montok sampai yang sebesar drum minyak tanah warungnya pakde Joko.
"Innalillah, ampuni hamba-Mu ini ya Rabb."doanya khusu'. Sebisa mungkin ia memperbanyak kalimat tahlil berharap agar akhir hidupnya termasuk dalam husnul khotimah. Air mata merembes. Takut, harap, cemas. Surgakah atau neraka nanti.
Kemungkinan untuk selamat amatlah kecil. Dengan degup yang tersisa dan nafas seadanya, ia larikan kaki ke tempat aman. Depan, belakang, kanan, kiri, mayat-mayat bergelimpangan sudah. Arggh!! menakutkan. Baru hendak menggapai pintu sebuah gedung, kepalanya terhantam batu yang masya Allah ngga ketulungan besarnya.
"Allah, Allah, Allah...naudzubillah sakitnya minta ampun deh"
"Asyhadu anlaa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah..."lirihnya lemah
Kini tinggal menunggu nyawa benar-benar lepas dari badan. Tak mungkin ia bisa melepaskan diri dari jepitan batu nyasar itu. baca
*****
"Mbak...Mbak..."sebuah suara mengagetkan Rani
"Billingnya kok ngga bisa di start yah?"tanya seorang anak muda
"Hahh??!!! oh, iya. Maaf saya ketiduran"jawabnya malu-malu
Sambil berjalan ke ruang online ia meraba kepalanya. Utuh. Tak ada cedera. Alhamdulillah ya Allah...ternyata tadi hanya mimpi.
Di meja operator, detak kengerian masih tersisa. Keringat dingin menguap di dahi. Mimpi tadi benar-benar olahraga tidur. Capek banget. Beberapa bulan ini aktifitas mengepung jam kosongnya. Pagi, siang, sore, malam, nyaris terisi. Mengajar TKA sekaligus merangkap operator warnet benar-benar menyita waktu. Hanya kadang-kadang saja bisa santai seharian dirumah. Mungkin akibat kelelahan yang terasa menumpuk di tubuhnya, jadi mimpi ketiban batu segede drum itu terjadi.
"Komputer ini bisa pake CD ngga mbak?" tanya seorang user
"Ngga bisa tuh bu" jawab Rani sopan
"Hanya server yang bisa. Kalau mau, nanti data di CDnya di transfer dari komputer server ke komputer yang ibu mau pakai"jelasnya.
"Yah, boleh deh." kata si Ibu.
Begitu data terbuka, dan siap di share. Wajah Rani terlihat menyesal. Data di CD itu bukan tugas yang harus segera diselesaikan, bukan pula data penting yang harus segera dikirimkan, sebagaimana yang ia kira. Ternyata isinya adalah semacam software judi. Tahu begini tentunya dia tak akan bilang bisa mentransfer CD. Cukup bilang "saya karyawan baru" user bisa maklum kalau ia belum bisa apa-apa di warnet.
Sejak minggu lalu, sudah ada empat orang yang memasukkan software judi ke warnet tempat ia kerja. Kalau sudah main, bisa puluhan ribu uang meraka melayang ke laci warnet. Aduh biyung....ingin rasanya minggat dari tempat ini. Ngeri membayangkan arah-arah larinya uang haram itu. Jangan-jangan sudah ada yang masuk ke tubuhnya. Oh, Rani bergidik demi membayangkannya.
"Kerja di warnet itu bagai penjual pisau, kalau dipakai untuk kebaikan, kita dapat berkahnya. Tapi kalau dipakai untuk membunuh orang, kita jua kebagian dosanya."ujar teman chat Rani beberapa waktu lalu. Entahlah, Rani memang mulai bimbang semenjak ia tahu hal yang dilakukan sebagian besar user warnet itu.
*****
Suara cekikikan dua orang pemuda sangat mengganggunya pagi ini. Karena penasaran, ia miringkan kepalanya ke kiri empat puluh lima derajat, dan...HAH!! ternyata pemuda itu lagi buka situs porno. Haduuhh, makin miris aja dia kerja di warnet. Kemudian disetelnya download-an murattal keras-keras. Pemuda yang di ledek bukannya tahu diri, malah makin mengeraskan suara tawanya. Benar-benar membuat Rani muak. Oalah...pemuda itu ternyata bukan muslim. Weleh, mau di bacain Yasin tiga kali juga ngga bakal ngerti-gubrak.Begitulah, banyak kesan yang ia dapat selama kerja di warnet ini. Banyak pelajaran yang diambil dari sini.
*****
Kerikil-kerikil keraguan semakin bermunculan dihati Rani. Mengganggu jalan pikirnya yang biasanya tenang. Sebelum kerja di warnet itu, pernah beberapa kali ia menyebarkan surat lamaran, beberapa pula meminta panggilan. Namun sayang, jilbab lebarnya selalu jadi alasan pihak perusahaan menolak keberadaannya. Lepas atau tidak diterima. Hanya itu.
"Boleh kamu pakai jilbab dari rumah, tapi kalau kerja harus dilepas yah."kata seorang dokter gigi terngiang di kepalanya. Wew...sama aja bo'ong dong Bu, gimana sih!.
Galau hati Rani semakin menjadi, ketika hendak ke WC ia memergoki sepasang muda-mudi sedang-ngapain yah??-saling peluk. Kontan langsung tertunduk kepalanya.
-Internet? gratis, -ngetik? gratis, -print? tinggal beli tinta, sungguh semua fasilitas di tempat kerjanya ini memberi nilai plus untuk kegiatan dan tugas-tugas mengajarnya. Tapi, semua beraduk dengan segala keresahannya atas gaji yang ia terima. Halal, haram, halal, haram.
"Ya Allah, berilah hamba jalan rizki yang lebih baik."pintanya pada sang Agung.
Hati memohon kepada-Nya
Berharap limpahan belas kasih Allah
Arahkan kaki ini menapak jalan
Pintaku Agar dekat selalu dengan-Mu.
Rabbi, jagalah aku dalam rengkuhan kasih-Mu
Yakinkan semua terjamin dengan rahmat-Mu
Rizkiku, hanya untukku
Jangan lagi aku khawatirkan itu.
*****
Suara sms menyadarkan Rani dari perenungannya. segera ia menoleh dan meraih Siemens M55 pemeberian kakak iparnya.
"ada lowongan di pabrik triplek. gimana? kamu jadi ke kalimantan sama bulek Tun? bulan lalu mbak kamu tanyakan lowongan. katanya kamu mau ke kalimantan sama bulek ya? di tunggu lo Ran"
Baru saja selesai baca sms dari bibinya, sms dari mas Andy-tetangga ruko sebelah warnet-sampai."Ran, warnet kemalingan. Semua digarap habis. kesini ya.
"Innalillahi. Semakin mantaplah Rani mengukir tekad pergi ke rumah bibinya di Kalimantan. Sampai jumpa Jakarta.
Saturday, October 14, 2006
Sampai Jumpa Jakarta
Posted by
Salam Keadilan
at
10:17 AM
2
comments
Friday, October 13, 2006
Tuhan Sembilan Senti
(posted in sastra islam)
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok. baca
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok.
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat beratbagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita.
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya
tapi kita tidak ketularan penyakitnya,
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepak bola,
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok
Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil 'ek-'ek orang goblok merokok
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat
merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa
Mereka ulama ahli hisap
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya, putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi alhawwa'i.
Kalau tak tahan,Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum
Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi)
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz
Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan..!
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil
yang kepalanya berapi itu,yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia
mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat
ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.
Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
nb. karya Taufik Ismail,
diambil dari milis pippks-jerman@yahoogroups.com , 25 Juli 2006
Posted by
Salam Keadilan
at
6:09 AM
1 comments
Ifthar Jama'i Region 1 (H A N N O V E R)
(posted in pengumuman)
Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Alhamdulillahi Rabbil `Alamin Washshalatu Wassalamu `Alaa SayyidilMursalin, Wa`alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in,
Warga yang dirahmati 4JJI SWT,
Berikut ini kami ingin menginformasikan acara Ifthor, Buka Puasa Bersama PKS :
Hari dan Tanggal : Ahad, 15 Oktober 2006
Tempat : Scheffelstraß e 17 (disebelah Mesjid Weidendamm)
Linie 6 Haltestelle Christus Kirche (Richtung: Nordhafen)
Linie 11 Haltestelle Christus Kirche (Richtung: Haltehoffstr. )
Waktu : 17:00 - selesai
Adapun susunan acaranya adalah sebagai berikut :
17:00 - 17:15 Pembukaan, Tilawah dan Kata Sambutan
17:15 - 18:15 Info dan Dialog PKS
18:15 - 18:30 Tausiyah Berbuka
18:30 - 19:00 Siap-siap berbuka, sholat ke Mesjid
19:00 - 20:15 Makan Malam, ramah tamah
20:15 Penutupan
Jazakumullahu khairan katsiro atas perhatiannya.
Wassalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Panitia Ifthor PKS Hannover
Hadi Pardianto-0176 23134486
Posted by
Salam Keadilan
at
5:57 AM
0
comments
PKS Larang Kadernya yang Jadi Pejabat Publik Terima Parcel
(posted in sekilas info)
Jakarta-RoL- - DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melarang kadernya yang menjadi Pejabat Publik baik di legislatif maupun di eksekutif menerima parcel terutama dari mitra kerjanya. "Kita sudah menginstruksikan kepada seluruh kader PKS di legislatif maupun di eksekutif untuk tidak menerima parcel," kata Presiden PKSTifatul Sembiring menjawab wartawan usai Acara Buka Puasa Bersama Kaum Dhuafa dan Masyarakat di kantor DPP PKS di Jakarta, Senin.
Menurut Tifatul, pemberian hadiah maupun parcel dikhawatirkan akan mempengaruhi kinerja pejabat publik karena pemberian tersebut bisa memunculkan isu ada udang di balik batu. Dengan pemberian tersebut, katanya, bisa saja pejabat publik menjadi tidak objektif dalam menilai mitra kerjanya, misalnya pejabat legislatif yang mengaudit lembaga eksekutif bisa tidak objektif akibat diberiparcel atau hadiah.
"Ini kita larang, kalau masih ada yang menerima akan dikenakan sanksi minimal mengembalikan parcel tersebut," tegasnya. (republika.co.id/091006)
Posted by
Salam Keadilan
at
5:53 AM
0
comments
Thursday, October 12, 2006
Buka Puasa di Region 2-3
(posted in pengumuman)
Assalamu ’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,
Saudara-saudari sekalian yang dimuliakan Allah SWT.Ba’da tahmid wa shalawat.
Semoga kesejahteraan dan barakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu tercurah pada saudara-saudari sekalian.Menjelang akhir bulan Ramadhan ini, kami PIP PKS Region 2 dan 3 akan mengadakan acara Buka Puasa, MABIT dan I’tikaf bersama. Kami mengundangsaudara-saudari sekalian untuk menghadiri acara tersebut yang Insya Allah akan diadakan: baca
Hari/tanggal : Sabtu-Ahad, 27-28 Ramadhan 1427 H (21-22 Oktober 2006)
Tempat :
1. 16.30 – 20.00 Taushíyah dan masukan untuk R2-3, Buka Puasa – St.Egidistr. 11 – 82205 Gilching.
2. 21.00 – 05.00 Mabit dan I’tikaf – Masjid Islamisches Zentrum München,Wallnerstr. 1-5, 80939 München.
Bagi akhwat yang tidak ke masjid akan disediakan penginapan di München.Bagi yang mengikuti MABIT dan I’tikaf harap membawa perlengkapan tidur(schlafsack) . Saudaraku di wilayah Region 2-3 diharapkan dengan sangatuntuk hadir di acara ini.
Demikian undangan ini disampaikan. Semoga Ramadhan kali ini dapat lebihbermakna dalam peningkatan kualitas keislaman kita.
Wassalamualaykum warrahmatullahi wabarakaatuh,
München, 10 Ramadhan 1427H
PJ Ramadhan: Wiwit Suryanto
Ketua Pusat Informasi dan Pelayanan Partai keadilan Sejahtera (PIP PKS) Region 2 dan 3 Bambang Suryo Darwanto
Kontak:Baden Württemberg: Nuke Pratama, HP +49 176 2535 5632
Bayern: Wiwit Suryanto, HP: +49 176 7001 3707
Austria: Andi Junirsah, HP: +43 676 6113 915
Posted by
Salam Keadilan
at
12:20 PM
0
comments
Wednesday, October 11, 2006
Siapkan 15 Bus, PKS Adakan Mudik Bersama
(posted in sekilas info )
Jakarta-Tak hanya perusahaan dan instansi-instansi pemerintahan yang mengadakan mudik bersama, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jakarta turut mengadakan mudik bersama masyarakat pada hari raya Idul Fitri 1427.
"DPW saat ini sedang menyiapkan lima belas bus untuk hajatan mudik bersama tahun 2006 ini," kata Kepala Bidang Humas DPW PKS Jakarta, Dedi Supriadi, di Jakarta, Selasa. Lima belas bus yang sedang dipersiapkan untuk mudik bersama yang akan dilaksanakan Kamis (19/10) atau Jumat (20/10), menurutnya, akan dibiayai oleh para anggota partai politik yang berada di DPR.
Anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa dan Lampung menyatakan, tujuan diselenggarakan mudik bersama ini adalah sebagai rasa tanggung jawab terhadap konstituennya di daerah pemilihannya. baca
Untuk saat ini, menurutnya, DPW PKS akan memfokuskan daerah mudik di Jawa Barat seperti Kuningan, Cirebon, Garut, sebagian besar Jawa tengah dan sebagian kecil Jawa Timur. "Sedangkan untuk Luar Jawa fokus kami baru Lampung sebagai daerah terdekat dari Jakarta," katanya. Untuk dapat mudik bersama tersebut, kata Dedi, masyarakat harus memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Jakarta.
"Dalam pendaftaran untuk mudik bersama tersebut akan kami lakukan melalui Dewan Pimpinan Cabang (DPC). Dan setiap DPC saat ini sedang kami lakukan pengumpulan data untuk memberikan jatah bus yang akan digunakan," katanya. Ketika ditanya apakah hal ini tidak merupakan kampanye, Dedi Supriadi menjawab hajatan ini merupakan kewajiban partai politik terhadap konstituennya.
"Ini merupakan bentuk kewajiban dalam pelayanan terhadap masyarakat sebagai konstituen partai politik. Yang terpenting kami dapat memberikan kecerian konstituen di saat Lebaran," katanya. (Republika.co.id/101006)
Posted by
Salam Keadilan
at
2:48 PM
0
comments
Tuesday, October 10, 2006
Naskah Pidato Paps Benedixt XVI di Regensburg
(posted in makalah)
Berikut adalah skrip asli pidato Paps Benedixt XVI di Regensburg dalam bahasa Jerman dan kami sertakan pula terjemahannya dalam bahasa inggris. Bagi pembaca yang ingin downlaod makalah, tersedia pula dalam file pdf. Alih bahasa dalam bahasa indonesia, insyallah menyusul.
catatan : hitam adalah bahasa jerman, -naskah asli- dan warna biru adalah bahasa inggris sedang warna merah, adalah kalimat kontroversial.baca
-------------------------------------------------------------
Vorlesung an der Universität Regensburg
Studium General in Regensburg University
Sehr geehrte Damen und Herren!
Distinguished Ladies and Gentlemen,
Es ist für mich ein bewegender Augenblick, noch einmal in der Universität zu sein und noch einmal eine Vorlesung halten zu dürfen. Meine Gedanken gehen dabei zurück in die Jahre, in denen ich an der Universität Bonn nach einer schönen Periode an der Freisinger Hochschule meine Tätigkeit als akademischer Lehrer aufgenommen habe. Es war – 1959 – noch die Zeit der alten Ordinarien-Universität. Für die einzelnen Lehrstühle gab es weder Assistenten noch Schreibkräfte, dafür aber gab es eine sehr unmittelbare Begegnung mit den Studenten und vor allem auch der Professoren untereinander.
It is a moving experience for me to be back again in the university and to be able once again to give a lecture at this podium. I think back to those years when, after a pleasant period at the Freisinger Hochschule, I began teaching at the University of Bonn. That was in 1959, in the days of the old university made up of ordinary professors. The various chairs had neither assistants nor secretaries, but in recompense there was much direct contact with students and in particular among the professors themselves.
In den Dozentenräumen traf man sich vor und nach den Vorlesungen. Die Kontakte mit den Historikern, den Philosophen, den Philologen und natürlich auch zwischen beiden Theologischen Fakultäten waren sehr lebendig. Es gab jedes Semester einen sogenannten Dies academicus, an dem sich Professoren aller Fakultäten den Studenten der gesamten Universität vorstellten und so ein wirkliches Erleben von Universitas möglich wurde: Dass wir in allen Spezialisierungen, die uns manchmal sprachlos füreinander machen, doch ein Ganzes bilden und im Ganzen der einen Vernunft mit all ihren Dimensionen arbeiten und so auch in einer gemeinschaftlichen Verantwortung für den rechten Gebrauch der Vernunft stehen – das wurde erlebbar. Die Universität war auch durchaus stolz auf ihre beiden Theologischen Fakultäten. Es war klar, dass auch sie, indem sie nach der Vernunft des Glaubens fragen, eine Arbeit tun, die notwendig zum Ganzen der Universitas scientiarum gehört, auch wenn nicht alle den Glauben teilen konnten, um dessen Zuordnung zur gemeinsamen Vernunft sich die Theologen mühen.
We would meet before and after lessons in the rooms of the teaching staff. There was a lively exchange with historians, philosophers, philologists and, naturally, between the two theological faculties. Once a semester there was a dies academicus, when professors from every faculty appeared before the students of the entire university, making possible a genuine experience of universitas - something that you too, Magnificent Rector, just mentioned - the experience, in other words, of the fact that despite our specializations which at times make it difficult to communicate with each other, we made up a whole, working in everything on the basis of a single rationality with its various aspects and sharing responsibility for the right use of reason - this reality became a lived experience. The university was also very proud of its two theological faculties. It was clear that, by inquiring about the reasonableness of faith, they too carried out a work which is necessarily part of the "whole" of the universitas scientiarum, even if not everyone could share the faith which theologians seek to correlate with reason as a whole.
Dieser innere Zusammenhalt im Kosmos der Vernunft wurde auch nicht gestört, als einmal verlautete, einer der Kollegen habe geäußert, an unserer Universität gebe es etwas Merkwürdiges: zwei Fakultäten, die sich mit etwas befassten, was es gar nicht gebe – mit Gott. Dass es auch solch radikaler Skepsis gegenüber notwendig und vernünftig bleibt, mit der Vernunft nach Gott zu fragen und es im Zusammenhang der Überlieferung des christlichen Glaubens zu tun, war im Ganzen der Universität unbestritten.
This profound sense of coherence within the universe of reason was not troubled, even when it was once reported that a colleague had said there was something odd about our university: it had two faculties devoted to something that did not exist: God. That even in the face of such radical scepticism it is still necessary and reasonable to raise the question of God through the use of reason, and to do so in the context of the tradition of the Christian faith: this, within the university as a whole, was accepted without question.
All dies ist mir wieder in den Sinn gekommen, als ich kürzlich den von Professor Theodore Khoury (Münster) herausgegebenen Teil des Dialogs las, den der gelehrte byzantinische Kaiser Manuel II. Palaeologos wohl 1391 im Winterlager zu Ankara mit einem gebildeten Perser über Christentum und Islam und beider Wahrheit führte. Der Kaiser hat vermutlich während der Belagerung von Konstantinopel zwischen 1394 und 1402 den Dialog aufgezeichnet; so versteht man auch, dass seine eigenen Ausführungen sehr viel ausführlicher wiedergegeben sind als die Antworten des persischen Gelehrten. Der Dialog erstreckt sich über den ganzen Bereich des von Bibel und Koran umschriebenen Glaubensgefüges und kreist besonders um das Gottes- und das Menschenbild, aber auch immer wieder notwendigerweise um das Verhältnis der „drei Gesetze“, drei Lebensordnungen: Altes Testament – Neues Testament – Koran.
I was reminded of all this recently, when I read the edition by Professor Theodore Khoury (Münster) of part of the dialogue carried on - perhaps in 1391 in the winter barracks near Ankara - by the erudite Byzantine emperor Manuel II Paleologus and an educated Persian on the subject of Christianity and Islam, and the truth of both. It was presumably the emperor himself who set down this dialogue, during the siege of Constantinople between 1394 and 1402; and this would explain why his arguments are given in greater detail than those of his Persian interlocutor. The dialogue ranges widely over the structures of faith contained in the Bible and in the Qur'an, and deals especially with the image of God and of man, while necessarily returning repeatedly to the relationship between - as they were called - three "Laws" or "rules of life": the Old Testament, the New Testament and the Qur'an.
In dieser Vorlesung möchte ich nur einen – im Aufbau des Dialogs eher marginalen – Punkt berühren, der mich im Zusammenhang des Themas Glaube und Vernunft fasziniert hat und der mir nur als Ausgangspunkt für meine Überlegungen zu diesem Thema dient. In der von Professor Khoury herausgegebenen siebten Gesprächsrunde (Papst spricht griechisch ) kommt der Kaiser auf das Thema des Djihād (heiliger Krieg) zu sprechen. Der Kaiser wusste sicher, dass in Sure 2, 256 steht: Kein Zwang in Glaubenssachen – es ist eine der frühen Suren aus der Zeit, wie uns die Kenner sagen, in der Mohammed selbst noch machtlos und bedroht war. Aber der Kaiser kannte natürlich auch die im Koran niedergelegten – später entstandenen – Bestimmungen über den heiligen Krieg. Ohne sich auf Einzelheiten wie die unterschiedliche Behandlung von "Schriftbesitzern" und "Ungläubigen" einzulassen, wendet er sich in erstaunlich schroffer Form ganz einfach mit der zentralen Frage nach dem Verhältnis von Religion und Gewalt überhaupt an seinen Gesprächspartner. Er sagt: "Zeig mir doch, was Mohammed Neues gebracht hat und da wirst du nur Schlechtes und Inhumanes finden wie dies, dass er vorgeschrieben hat, den Glauben, den er predigte, durch das Schwert zu verbreiten".
It is not my intention to discuss this question in the present lecture; here I would like to discuss only one point - itself rather marginal to the dialogue as a whole - which, in the context of the issue of "faith and reason", I found interesting and which can serve as the starting-point for my reflections on this issue. In the seventh conversation (διάλεξις - controversy) edited by Professor Khoury, the emperor touches on the theme of the holy war. The emperor must have known that surah 2, 256 reads: "There is no compulsion in religion". According to the experts, this is one of the suras of the early period, when Mohammed was still powerless and under threat. But naturally the emperor also knew the instructions, developed later and recorded in the Qur'an, concerning holy war. Without descending to details, such as the difference in treatment accorded to those who have the "Book" and the "infidels", he addresses his interlocutor with a startling brusqueness, a brusqueness which leaves us astounded, on the central question about the relationship between religion and violence in general, saying"Show me just what Mohammed brought that was new, and there you will find things only evil and inhuman, such as his command to spread by the sword the faith he preached".
Der Kaiser begründet dann eingehend, warum Glaubensverbreitung durch Gewalt widersinnig ist. Sie steht im Widerspruch zum Wesen Gottes und zum Wesen der Seele. "Gott hat kein Gefallen am Blut, und nicht vernunftgemäß (Papst spricht griechisch ) zu handeln, ist dem Wesen Gottes zuwider. Der Glaube ist Frucht der Seele, nicht des Körpers. Wer also jemanden zum Glauben führen will, braucht die Fähigkeit zur guten Rede und ein rechtes Denken, nicht aber Gewalt und Drohung… Um eine vernünftige Seele zu überzeugen, braucht man nicht seinen Arm, nicht Schlagwerkzeuge noch sonst eines der Mittel, durch die man jemanden mit dem Tod bedrohen kann…".
The emperor, after having expressed himself so forcefully, goes on to explain in detail the reasons why spreading the faith through violence is something unreasonable. Violence is incompatible with the nature of God and the nature of the soul. "God", he says, "is not pleased by blood - and not acting reasonably (σὺν λόγω) is contrary to God's nature. Faith is born of the soul, not the body. Whoever would lead someone to faith needs the ability to speak well and to reason properly, without violence and threats... To convince a reasonable soul, one does not need a strong arm, or weapons of any kind, or any other means of threatening a person with death...".
Der entscheidende Satz in dieser Argumentation gegen Bekehrung durch Gewalt lautet: Nicht vernunftgemäß handeln, ist dem Wesen Gottes zuwider. Der Herausgeber, Theodore Khoury, kommentiert dazu: Für den Kaiser als einen in griechischer Philosophie aufgewachsenen Byzantiner ist dieser Satz evident. Für die moslemische Lehre hingegen ist Gott absolut transzendent. Sein Wille ist an keine unserer Kategorien gebunden und sei es die der Vernünftigkeit. Khoury zitiert dazu eine Arbeit des bekannten französischen Islamologen R. Arnaldez, der darauf hinweist, dass Ibn Hazn so weit gehe zu erklären, dass Gott auch nicht durch sein eigenes Wort gehalten sei und dass nichts ihn dazu verpflichte, uns die Wahrheit zu offenbaren. Wenn er es wollte, müsse der Mensch auch Götzendienst treiben.
The decisive statement in this argument against violent conversion is this: not to act in accordance with reason is contrary to God's nature. The editor, Theodore Khoury, observes: For the emperor, as a Byzantine shaped by Greek philosophy, this statement is self-evident. But for Muslim teaching, God is absolutely transcendent. His will is not bound up with any of our categories, even that of rationality. Here Khoury quotes a work of the noted French Islamist R. Arnaldez, who points out that Ibn Hazm went so far as to state that God is not bound even by his own word, and that nothing would oblige him to reveal the truth to us. Were it God's will, we would even have to practise idolatry.
Hier tut sich ein Scheideweg im Verständnis Gottes und so in der konkreten Verwirklichung von Religion auf, der uns heute ganz unmittelbar herausfordert. Ist es nur griechisch zu glauben, dass vernunftwidrig zu handeln dem Wesen Gottes zuwider ist, oder gilt das immer und in sich selbst? Ich denke, dass an dieser Stelle der tiefe Einklang zwischen dem, was im besten Sinn griechisch ist und dem auf der Bibel gründenden Gottesglauben sichtbar wird. Den ersten Vers der Genesis abwandelnd, hat Johannes den Prolog seines Evangeliums mit dem Wort eröffnet: Im Anfang war der Logos. Dies ist genau das Wort, das der Kaiser gebraucht: Gott handelt mit Logos. Logos ist Vernunft und Wort zugleich – eine Vernunft, die schöpferisch ist und sich mitteilen kann, aber eben als Vernunft. Johannes hat uns damit das abschließende Wort des biblischen Gottesbegriffs geschenkt, in dem alle die oft mühsamen und verschlungenen Wege des biblischen Glaubens an ihr Ziel kommen und ihre Synthese finden. Im Anfang war der Logos, und der Logos ist Gott, so sagt uns der Evangelist.
At this point, as far as understanding of God and thus the concrete practice of religion is concerned, we are faced with an unavoidable dilemma. Is the conviction that acting unreasonably contradicts God's nature merely a Greek idea, or is it always and intrinsically true? I believe that here we can see the profound harmony between what is Greek in the best sense of the word and the biblical understanding of faith in God. Modifying the first verse of the Book of Genesis, the first verse of the whole Bible, John began the prologue of his Gospel with the words: "In the beginning was the λόγος". This is the very word used by the emperor: God acts, σὺν λόγω, with logos. Logos means both reason and word - a reason which is creative and capable of self-communication, precisely as reason. John thus spoke the final word on the biblical concept of God, and in this word all the often toilsome and tortuous threads of biblical faith find their culmination and synthesis. In the beginning was the logos, and the logos is God, says the Evangelist.
Das Zusammentreffen der biblischen Botschaft und des griechischen Denkens war kein Zufall. Die Vision des heiligen Paulus, dem sich die Wege in Asien verschlossen und der nächtens in einem Gesicht einen Mazedonier sah und ihn rufen hörte: Komm herüber und hilf uns (Apg 16, 6 – 10) – diese Vision darf als Verdichtung des von innen her nötigen Aufeinanderzugehens zwischen biblischem Glauben und griechischem Fragen gedeutet werden. Dabei war dieses Zugehen längst im Gang. Schon der geheimnisvolle Gottesname vom brennenden Dornbusch, der diesen Gott aus den Göttern mit den vielen Namen herausnimmt und von ihm einfach das "Ich bin", das Dasein aussagt, ist eine Bestreitung des Mythos, zu der der sokratische Versuch, den Mythos zu überwinden und zu übersteigen, in einer inneren Analogie steht.
The encounter between the Biblical message and Greek thought did not happen by chance. The vision of Saint Paul, who saw the roads to Asia barred and in a dream saw a Macedonian man plead with him: "Come over to Macedonia and help us!" (cf. Acts 16:6-10) - this vision can be interpreted as a "distillation" of the intrinsic necessity of a rapprochement between Biblical faith and Greek inquiry. In point of fact, this rapprochement had been going on for some time. The mysterious name of God, revealed from the burning bush, a name which separates this God from all other divinities with their many names and simply declares "I am", already presents a challenge to the notion of myth, to which Socrates' attempt to vanquish and transcend myth stands in close analogy.
Der am Dornbusch begonnene Prozess kommt im Innern des Alten Testaments zu einer neuen Reife während des Exils, wo nun der landlos und kultlos gewordene Gott Israels sich als den Gott des Himmels und der Erde verkündet und sich mit einer einfachen, das Dornbusch-Wort weiterführenden Formel vorstellt: "Ich bin's." Mit diesem neuen Erkennen Gottes geht eine Art von Aufklärung Hand in Hand, die sich im Spott über die Götter drastisch ausdrückt, die nur Machwerke der Menschen sind (vgl. Ps 115). So geht der biblische Glaube in der hellenistischen Epoche bei aller Schärfe des Gegensatzes zu den hellenistischen Herrschern, die die Angleichung an die griechische Lebensweise und ihren Götterkult erzwingen wollten, dem Besten des griechischen Denkens von innen her entgegen zu einer gegenseitigen Berührung, wie sie sich dann besonders in der späten Weisheits-Literatur vollzogen hat.
Within the Old Testament, the process which started at the burning bush came to new maturity at the time of the Exile, when the God of Israel, an Israel now deprived of its land and worship, was proclaimed as the God of heaven and earth and described in a simple formula which echoes the words uttered at the burning bush: "I am". This new understanding of God is accompanied by a kind of enlightenment, which finds stark expression in the mockery of gods who are merely the work of human hands (cf. Ps 115). Thus, despite the bitter conflict with those Hellenistic rulers who sought to accommodate it forcibly to the customs and idolatrous cult of the Greeks, biblical faith, in the Hellenistic period, encountered the best of Greek thought at a deep level, resulting in a mutual enrichment evident especially in the later wisdom literature.
Heute wissen wir, dass die in Alexandrien entstandene griechische Übersetzung des Alten Testaments – die Septuaginta – mehr als eine bloße (vielleicht wenig positiv zu beurteilende) Übersetzung des hebräischen Textes, sondern ein selbstständiger Textzeuge und ein eigener wichtiger Schritt der Offenbarungsgeschichte ist, in dem sich diese Begegnung auf eine Weise realisiert hat, die für die Entstehung des Christentums und seine Verbreitung entscheidende Bedeutung gewann. Zutiefst geht es dabei um die Begegnung zwischen Glaube und Vernunft, von rechter Aufklärung und Religion. Manuel II. hat wirklich aus dem inneren Wesen des christlichen Glaubens heraus und zugleich aus dem Wesen des Griechischen, das sich mit dem Glauben verschmolzen hatte, sagen können: Nicht "mit dem Logos" handeln, ist dem Wesen Gottes zuwider.
Today we know that the Greek translation of the Old Testament produced at Alexandria - the Septuagint - is more than a simple (and in that sense really less than satisfactory) translation of the Hebrew text: it is an independent textual witness and a distinct and important step in the history of revelation, one which brought about this encounter in a way that was decisive for the birth and spread of Christianity. A profound encounter of faith and reason is taking place here, an encounter between genuine enlightenment and religion. From the very heart of Christian faith and, at the same time, the heart of Greek thought now joined to faith, Manuel II was able to say: Not to act "with logos" is contrary to God's nature.
Hier ist der Redlichkeit halber anzumerken, dass sich im Spätmittelalter Tendenzen der Theologie entwickelt haben, die diese Synthese von Griechischem und Christlichem aufsprengen. Gegenüber dem sogenannten augustinischen und thomistischen Intellektualismus beginnt bei Duns Scotus eine Position des Voluntarismus, die schließlich dahinführte zu sagen, wir kennten von Gott nur seine Voluntas ordinata. Jenseits davon gebe es die Freiheit Gottes, kraft derer er ja auch das Gegenteil von allem, was er getan hat, hätte machen und tun können. Hier zeichnen sich Positionen ab, die denen von Ibn Hazn durchaus nahekommen können und auf das Bild eines Willkür-Gottes zulaufen könnten, der auch nicht an die Wahrheit und an das Gute gebunden ist.
In all honesty, one must observe that in the late Middle Ages we find trends in theology which would sunder this synthesis between the Greek spirit and the Christian spirit. In contrast with the so-called intellectualism of Augustine and Thomas, there arose with Duns Scotus a voluntarism which, in its later developments, led to the claim that we can only know God's voluntas ordinata. Beyond this is the realm of God's freedom, in virtue of which he could have done the opposite of everything he has actually done. This gives rise to positions which clearly approach those of Ibn Hazm and might even lead to the image of a capricious God, who is not even bound to truth and goodness.
Die Transzendenz und die Andersheit Gottes werden so weit übersteigert, dass auch unsere Vernunft, unser Sinn für das Wahre und Gute kein wirklicher Spiegel Gottes mehr sind, dessen abgründige Möglichkeiten hinter seinem tatsächlichen Entscheiden für uns ewig unzugänglich und verborgen bleiben. Demgegenüber hat der kirchliche Glaube immer daran festgehalten, dass es zwischen Gott und uns, zwischen seinem ewigen Schöpfergeist und unserer geschaffenen Vernunft eine wirkliche Analogie gibt, in der zwar die Unähnlichkeiten unendlich größer sind als die Ähnlichkeiten, dass aber eben doch die Analogie und ihre Sprache nicht aufgehoben werden (vgl. Lat IV).
God's transcendence and otherness are so exalted that our reason, our sense of the true and good, are no longer an authentic mirror of God, whose deepest possibilities remain eternally unattainable and hidden behind his actual decisions. As opposed to this, the faith of the Church has always insisted that between God and us, between his eternal Creator Spirit and our created reason there exists a real analogy, in which - as the Fourth Lateran Council in 1215 stated - unlikeness remains infinitely greater than likeness, yet not to the point of abolishing analogy and its language.
Gott wird nicht göttlicher dadurch, dass wir ihn in einen reinen und undurchschaubaren Voluntarismus entrücken, sondern der wahrhaft göttliche Gott ist der Gott, der sich als Logos gezeigt und als Logos liebend für uns gehandelt hat und handelt. gewiss, die Liebe "übersteigt" - wie Paulus sagt - die Erkenntnis und vermag daher mehr wahrzunehmen als das bloße Denken (vgl. Eph 3, 19), aber sie bleibt doch Liebe des Gottes-Logos, weshalb christlicher Gottesdienst (Papst spricht griechisch ) ist – Gottesdienst, der im Einklang mit dem ewigen Wort und mit unserer Vernunft steht (vgl. Röm 12, 1). Dieses hier angedeutete innere Zugehen aufeinander, das sich zwischen biblischem Glauben und griechischem philosophischem Fragen vollzogen hat, ist ein nicht nur religionsgeschichtlich, sondern weltgeschichtlich entscheidender Vorgang, der uns auch heute in Pflicht nimmt.
God does not become more divine when we push him away from us in a sheer, impenetrable voluntarism; rather, the truly divine God is the God who has revealed himself as logos and, as logos, has acted and continues to act lovingly on our behalf. Certainly, love, as Saint Paul says, "transcends" knowledge and is thereby capable of perceiving more than thought alone (cf. Eph 3:19); nonetheless it continues to be love of the God who is Logos. Consequently, Christian worship is, again to quote Paul - "λογικη λατρεία", worship in harmony with the eternal Word and with our reason (cf. Rom 12:1). This inner rapprochement between Biblical faith and Greek philosophical inquiry was an event of decisive importance not only from the standpoint of the history of religions, but also from that of world history - it is an event which concerns us even today.
Wenn man diese Begegnung sieht, ist es nicht verwunderlich, dass das Christentum trotz seines Ursprungs und wichtiger Entfaltungen im Orient schließlich seine geschichtlich entscheidende Prägung in Europa gefunden hat. Wir können auch umgekehrt sagen: Diese Begegnung, zu der dann noch das Erbe Roms hinzutritt, hat Europa geschaffen und bleibt die Grundlage dessen, was man mit Recht Europa nennen kann. Der These, dass das kritisch gereinigte griechische Erbe wesentlich zum christlichen Glauben gehört, steht die Forderung nach der Enthellenisierung des Christentums entgegen, die seit dem Beginn der Neuzeit wachsend das theologische Ringen beherrscht. Wenn man näher zusieht, kann man drei Wellen des Enthellenisierungsprogramms beobachten, die zwar miteinander verbunden, aber in ihren Begründungen und Zielen doch deutlich voneinander verschieden sind.
Given this convergence, it is not surprising that Christianity, despite its origins and some significant developments in the East, finally took on its historically decisive character in Europe. We can also express this the other way around: this convergence, with the subsequent addition of the Roman heritage, created Europe and remains the foundation of what can rightly be called Europe. The thesis that the critically purified Greek heritage forms an integral part of Christian faith has been countered by the call for a dehellenization of Christianity - a call which has more and more dominated theological discussions since the beginning of the modern age. Viewed more closely, three stages can be observed in the programme of dehellenization: although interconnected, they are clearly distinct from one another in their motivations and objectives.
Die Enthellenisierung erscheint zuerst mit den Anliegen der Reformation des 16. Jahrhunderts verknüpft. Die Reformatoren sahen sich angesichts der theologischen Schultradition einer ganz von der Philosophie her bestimmten Systematisierung des Glaubens gegenüber, sozusagen einer Fremdbestimmung des Glaubens durch ein nicht aus ihm kommendes Denken. Der Glaube erschien dabei nicht mehr als lebendiges geschichtliches Wort, sondern eingehaust in ein philosophisches System. Das Sola Scriptura sucht demgegenüber die reine Urgestalt des Glaubens, wie er im biblischen Wort ursprünglich da ist. Metaphysik erscheint als eine Vorgabe von anderswoher, von der man den Glauben befreien muss, damit er ganz wieder er selber sein könne. In einer für die Reformatoren nicht vorhersehbaren Radikalität hat Kant mit seiner Aussage, er habe das Denken beiseite schaffen müssen, um dem Glauben Platz zu machen, aus diesem Programm heraus gehandelt. Er hat dabei den Glauben ausschließlich in der praktischen Vernunft verankert und ihm den Zugang zum Ganzen der Wirklichkeit abgesprochen.
Die liberale Theologie des 19. und 20. Jahrhunderts brachte eine zweite Welle im Programm der Enthellenisierung mit sich, für die Adolf von Harnack als herausragender Repräsentant steht. In der Zeit, als ich studierte, wie in den frühen Jahren meines akademischen Wirkens war dieses Programm auch in der katholischen Theologie kräftig am Werk. Pascals Unterscheidung zwischen dem Gott der Philosophen und dem Gott Abrahams, Isaaks und Jakobs diente als Ausgangspunkt dafür. In meiner Bonner Antrittsvorlesung von 1959 habe ich mich damit auseinanderzusetzen versucht.Dies alles möchte ich hier nicht neu aufnehmen. Wohl aber möchte ich wenigstens in aller Kürze versuchen, das unterscheidend Neue dieser zweiten Enthellenisierungswelle gegenüber der ersten herauszustellen. Als Kerngedanke erscheint bei Harnack die Rückkehr zum einfachen Menschen Jesus und zu seiner einfachen Botschaft, die allen Theologisierungen und eben auch Hellenisierungen voraus liege: Diese einfache Botschaft stelle die wirkliche Höhe der religiösen Entwicklung der Menschheit dar. Jesus habe den Kult zugunsten der Moral verabschiedet.
Er wird im letzten als Vater einer menschenfreundlichen moralischen Botschaft dargestellt. Dabei geht es Harnack im Grunde darum, das Christentum wieder mit der modernen Vernunft in Einklang zu bringen, eben indem man es von scheinbar philosophischen und theologischen Elementen wie etwa dem Glauben an die Gottheit Christi und die Dreieinheit Gottes befreie.Insofern ordnet die historisch-kritische Auslegung des Neuen Testaments wie er sie sah die Theologie wieder neu in den Kosmos der Universität ein: Theologie ist für Harnack wesentlich historisch und so streng wissenschaftlich. Was sie auf dem Weg der Kritik über Jesus ermittelt, ist sozusagen Ausdruck der praktischen Vernunft und damit auch im Ganzen der Universität vertretbar. Im Hintergrund steht die neuzeitliche Selbstbeschränkung der Vernunft, wie sie in Kants Kritiken klassischen Ausdruck gefunden hatte, inzwischen aber vom naturwissenschaftlichen Denken weiter radikalisiert wurde. Diese moderne Auffassung der Vernunft beruht auf einer - durch den technischen Erfolg bestätigten - Synthese zwischen Platonismus (Cartesianismus) und Empirismus, um es verkürzt zu sagen.
Auf der einen Seite wird die mathematische Struktur der Materie, sozusagen ihre innere Rationalität vorausgesetzt, die es möglich macht, sie in ihrer Wirkform zu verstehen und zu gebrauchen: Diese Grundvoraussetzung ist sozusagen das platonische Element im modernen Naturverständnis. Auf der anderen Seite geht es um die Funktionalisierbarkeit der Natur für unsere Zwecke, wobei die Möglichkeit der Verifizierung oder Falsifizierung im Experiment erst die entscheidende Gewissheit liefert. Das Gewicht zwischen den beiden Polen kann je nachdem mehr auf der einen oder der anderen Seite liegen. Ein so streng positivistischer Denker wie J. Monod hat sich als überzeugter Platoniker bezeichnet.Dies bringt zwei für unsere Frage entscheidende Grundorientierungen mit sich. Nur die im Zusammenspiel von Mathematik und Empirie sich ergebende Form von Gewissheit gestattet es, von Wissenschaftlichkeit zu sprechen. Was Wissenschaft sein will, muss sich diesem Maßstab stellen. So versuchten dann auch die auf die menschlichen Dinge bezogenen Wissenschaften wie Geschichte, Psychologie, Soziologie, Philosophie sich diesem Kanon von Wissenschaftlichkeit anzunähern. Wichtig für unsere Überlegungen ist aber noch, dass die Methode als solche die Gottesfrage ausschließt und sie als unwissenschaftliche oder vorwissenschaftliche Frage erscheinen lässt. Damit aber stehen wir vor einer Verkürzung des Radius von Wissenschaft und Vernunft, die in Frage gestellt werden muss.
Darauf werde ich zurückkommen.Einstweilen bleibt festzustellen, dass bei einem von dieser Sichtweise her bestimmten Versuch, Theologie "wissenschaftlich" zu erhalten, vom Christentum nur ein armseliges Fragmentstück übrigbleibt. Aber wir müssen sagen: Wenn dies allein die ganze Wissenschaft ist, dann wird der Mensch selbst dabei verkürzt. Denn die eigentlich menschlichen Fragen, die nach unserem Woher und Wohin, die Fragen der Religion und des Ethos können dann nicht im Raum der gemeinsamen, von der "Wissenschaft" umschriebenen Vernunft Platz finden und müssen ins Subjektive verlegt werden. Das Subjekt entscheidet mit seinen Erfahrungen, was ihm religiös tragbar erscheint, und das subjektive "Gewissen" wird zur letztlich einzigen ethischen Instanz. So aber verlieren Ethos und Religion ihre gemeinschaftsbildende Kraft und verfallen der Beliebigkeit.
Dieser Zustand aber ist für die Menschheit gefährlich: Wir sehen es an den uns bedrohenden Pathologien der Religion und der Vernunft, die notwendig ausbrechen müssen, wo die Vernunft so verengt wird, dass ihr die Fragen der Religion und des Ethos nicht mehr zugehören. Was an ethischen Versuchen von den Regeln der Evolution oder von Psychologie und Soziologie her bleibt, reicht einfach nicht aus.Bevor ich zu den Schlussfolgerungen komme, auf die ich mit alledem hinaus will, muss ich noch ganz kurz die dritte Enthellenisierungswelle andeuten, die zurzeit umgeht. Angesichts der Begegnung mit der Vielheit der Kulturen sagt man heute gern, die Synthese mit dem Griechentum, die sich in der alten Kirche vollzogen habe, sei eine erste Inkulturation des Christlichen gewesen, auf die man die anderen Kulturen nicht festlegen dürfe. Ihr Recht müsse es sein, hinter diese Inkulturation zurückzugehen auf die einfache Botschaft des Neuen Testaments, um sie in ihren Räumen jeweils neu zu inkulturieren.Diese These ist nicht einfach falsch, aber doch vergröbert und ungenau. Denn das Neue Testament ist griechisch geschrieben und trägt in sich selber die Berührung mit dem griechischen Geist, die in der vorangegangenen Entwicklung des Alten Testaments gereift war.
Gewiss gibt es Schichten im Werdeprozess der alten Kirche, die nicht in alle Kulturen eingehen müssen. Aber die Grundentscheidungen, die eben den Zusammenhang des Glaubens mit dem Suchen der menschlichen Vernunft betreffen, die gehören zu diesem Glauben selbst und sind seine ihm gemäße Entfaltung.Damit komme ich zum Schluss. Die eben in ganz groben Zügen versuchte oder angedeutete Selbstkritik der modernen Vernunft schließt ganz und gar nicht die Auffassung ein, man müsse nun wieder hinter die Aufklärung zurückgehen und die Einsichten der Moderne verabschieden. Das Große der modernen Geistesentwicklung wird ungeschmälert anerkannt: Wir alle sind dankbar für die großen Möglichkeiten, die sie dem Menschen erschlossen hat und für die Fortschritte an Menschlichkeit, die uns geschenkt wurden. Das Ethos der Wissenschaftlichkeit ist im übrigen Wille zum Gehorsam gegenüber der Wahrheit und insofern Ausdruck einer Grundhaltung, die zu den wesentlichen Entscheiden des Christlichen gehört.Nicht Rücknahme, nicht negative Kritik ist gemeint, sondern um Ausweitung unseres Vernunftbegriffs und -gebrauchs geht es. Denn bei aller Freude über die neuen Möglichkeiten des Menschen sehen wir auch die Bedrohungen, die aus diesen Möglichkeiten aufsteigen und müssen uns fragen, wie wir ihrer Herr werden können. Wir können es nur, wenn Vernunft und Glaube auf neue Weise zueinanderfinden; wenn wir die selbst verfügte Beschränkung der Vernunft auf das im Experiment Falsifizierbare überwinden und der Vernunft ihre ganze Weite wieder eröffnen.
In diesem Sinn gehört Theologie nicht nur als historische und humanwissenschaftliche Disziplin, sondern als eigentliche Theologie, als Frage nach der Vernunft des Glaubens an die Universität und in ihren weiten Dialog der Wissenschaften hinein. Nur so werden wir auch zum wirklichen Dialog der Kulturen und Religionen fähig, dessen wir so dringend bedürfen. In der westlichen Welt herrscht weithin die Meinung, allein die positivistische Vernunft und die ihr zugehörigen Formen der Philosophie seien universal.Aber von den tief religiösen Kulturen der Welt wird gerade dieser Ausschluss des Göttlichen aus der Universalität der Vernunft als Verstoß gegen ihre innersten Überzeugungen angesehen. Eine Vernunft, die dem Göttlichen gegenüber taub ist und Religion in den Bereich der Subkulturen abdrängt, ist unfähig zum Dialog der Kulturen.
Dabei trägt, wie ich zu zeigen versuchte, die moderne naturwissenschaftliche Vernunft mit dem ihr innewohnenden platonischen Element eine Frage in sich, die über sie und ihre methodischen Möglichkeiten hinausweist. Sie selber muss die rationale Struktur der Materie wie ihre Korrespondenz zwischen unserem Geist und den in der Natur waltenden rationalen Strukturen ganz einfach als Gegebenheit annehmen, auf der ihr methodischer Weg beruht.Aber die Frage, warum dies so ist, die besteht doch und muss von der Naturwissenschaft weitergegeben werden an andere Ebenen und Weisen des Denkens – an Philosophie und Theologie. Für die Philosophie und in anderer Weise für die Theologie ist das Hören auf die großen Erfahrungen und Einsichten der religiösen Traditionen der Menschheit, besonders aber des christlichen Glaubens, eine Erkenntnisquelle, der sich zu verweigern eine unzulässige Verengung unseres Hörens und Antwortens wäre.
Mir kommt da ein Wort des Sokrates an Phaidon in den Sinn. In den vorangehenden Gesprächen hatte man viele falsche philosophische Meinungen berührt, und nun sagt Sokrates: Es wäre wohl zu verstehen, wenn einer aus Ärger über so viel Falsches sein übriges Leben lang alle Reden über das Sein hasste und schmähte.Aber auf diese Weise würde er der Wahrheit des Seienden verlustig gehen und einen sehr großen Schaden erleiden. Der Westen ist seit langem von dieser Abneigung gegen die grundlegenden Fragen seiner Vernunft bedroht und könnte damit nur einen großen Schaden erleiden. Mut zur Weite der Vernunft, nicht Absage an ihre Größe – das ist das Programm, mit dem eine dem biblischen Glauben verpflichtete Theologie in den Disput der Gegenwart eintritt. "Nicht vernunftgemäß (mit dem Logos) handeln ist dem Wesen Gottes zuwider", hat Manuel II. von seinem christlichen Gottesbild her zu seinem persischen Gesprächspartner gesagt. In diesen großen Logos, in diese Weite der Vernunft laden wir beim Dialog der Kulturen unsere Gesprächspartner ein. Sie selber immer wieder zu finden, ist die große Aufgabe der Universität.
Posted by
Salam Keadilan
at
1:15 PM
2
comments
Monday, October 09, 2006
Berburu Berkah Ramadhan
Setiap Senin - Kamis di Bulan Ramadhan jam 6:30
bersama Ust. Maliki Samiun, Lc.
di Qommunity Radio (http://www.qommunityradio.de)
atau Yahoo! Messenger (minta diundang kepada id: marnelis, hrijzaani, atau maryopi)
Posted by
Salam Keadilan
at
1:17 PM
0
comments
Wer sind die Muslime?
(posted in Auf Deutsch bitte ! )
Mehr als eine Milliarde Menschen aller Rassen, Nationalitaeten und Kulturen ueberall auf dem Erdball sind Muslime - von den Reisefeldern Indonesiens bis zu den Wuesten im Inneren Afrikas, von den Wolkenkratzen New Yorks bis zu den Beduinenzelten in Arabien.
Nur 18% der Muslime leben in der arabischen Welt. Ein Fuenftel findet man in Afrika suedlich der Sahara, und die groesste muslimiche Gemeinschaft auf der Erde ist in Indonesien. Betraechtliche Teile Asiens sind muslimisch, waehrend bedeutsame Minderheiten in Indien, China, Russland, Nord- und Suedamerika sowie Ost- und Westeuropa leben.
Posted by
Salam Keadilan
at
1:13 PM
0
comments
Dan salke pun hadir...
(posted in pengumuman)
Alhamdulillah, dengan iringin bismillah dan doa moga tetep istiqomah, salam keadilan (salke) hadir ke hadapan kita...
Moga dakwah media maya ini, makin menambah maraknya hiruk pikuk kebangkitan ummat di jerman dan mampu menambah semerbak harum mewanginya al islam di dunia cyber.
Bismillahirrahmanirrahim
nb. Nuernberg, den. 15 ramadhan 1407
Posted by
Salam Keadilan
at
4:32 AM
0
comments
Sunday, October 08, 2006
Seruan Kebangkitan
(posted in sastra islam)
Hari ini manusia kehilangan eksistensi
cita-cita tanpa orientasi
visi tanpa ideologi
raga bergerak tanpa jiwa
tanpa rasa
menapaki hari dengan payah,
yang kian bertambah
dunia menguasai jiwa
kemulian luruh bersama tetes-tetes peluh kehinaan
manusia jatuh pada lembah nadir kenistaan
dan kematian hati kian mendekat
dan kemulian jiwa kian sulit untuk diraih
sebuah seruan harus dilantunkan
untuk kembalikan kehormataan diri
umat dan agama yang amat lama tercabik
seruan yang tetap lantang dikobarkan
bersama kami, salam keadilan jerman
nb. sumber inspirasi, cd kampanye PKS
Posted by
Salam Keadilan
at
5:06 PM
0
comments
